Postingan

Menampilkan postingan dengan label CERPEN 24 JAM

Senasib Sepenanggungan

Gambar
“Oh ternyata kamu seperti itu ya selama ini.” “Maksud kamu apa Din?” “Udahlah La, nggak usah sok baik sekarang sama aku. Sudah kebongkar semua keburukanmu. Nggak ada kata sahabat lagi diantara kita.” Nadin meninggalkan Darla dengan sejuta tanda tanya di benak. Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka Darla pun tak tahu. Padahal baru kemaren mereka menghabiskan waktu bersama. Kebanyakan memang Nadin yang curhat tentang kekasihnya tapi kemarin Nadin baru saja putus. Ia masih sangat teringat perkataan Nadin, “Aku nggak akan sedih sedih lagi karena putus cinta La, ada kamu yang selalu ada buat aku. Nggak guna nagisin laki laki. Ya nggak?” Kemudian Nadin tertawa renyah, saat itulah Darla merasa terenyuh dengan perkataan Nadin yang masih sangat kekanak kanakan itu. Mereka bersahabat memang masih sekitar satu tahun ketika Ayah Nadin dipindahtugaskan dan ia sekeluarga harus tinggal di daerah baru. Darla bertemu Nadin ketika mereka ada dalam satu ruangan kursus bahasa Inggris. Tapi semenjak ...

Kesadaran Cinta

Gambar
“Baik, nanti saya tunggu proposal anda. Setelah cukup bagus dan menarik saya akan segera tanda tangani untuk bekerja dengan perusahaan anda.” “Baik pak, terima kasih.” Pemuda berdasi itu menjabat tangan Ramlan, Ramlan menerimanya dengan satu ayunan mantap. Setelah tamunya pergi Ramlan segera sibuk dengan layar laptop yang ada di depannya. Tak akan ada waktu terbuang percuma baginya, waktu adalah barang berharga yang tak mau ia sia-siakan. Tok Tok Tok... “Maaf Pak, ada yang ingin bertemu.” Seorang perempuan cantik dengan baju sangat rapi masuk ruang kerja Ramlan. “Siapa Rin?” Ramlan tak beralih pandang sedikit pun dari layar laptopnya. “Mbak Kesya Pak.” “Oh, iya persilakan masuk saja.” Ramlan masih sibuk dengan ketikan di laptopnya. Sesaat kemudian perempuan bernama Kesya itu memasuki ruang kerja Ramlan dengan gaun berwarna biru. “Hai, sayang...masih sibuk?” Kesya menghampiri Ramlan yang masih sibuk dengan dunianya sendiri. “Kamu kok nggak bilang mau datang.” “Aku sudah kirim pesan, sud...

Sebelum Pergi

Gambar
“Sudah kamu persiapkan semua Qi?” Dara sibuk merapikan baju dan beberapa barang di tas Riqi. “Emm...map mapku udah aku masukkan semua belum ya?” Riqi berdiam sejenak sambil mengingat. “Map map buat penelitian disana?” Riqi mengangguk dan melangkah menuju meja belajarnya untuk mencoba mengecheck kembali berkas berkas yang ia perlukan. “Ehm...hey hey ini...” Dara mengangkat map map warna biru itu di tangan kanannya. “Ah, iya itu. Kok kamu tahu sih Ra?” “Apa sih yang nggak aku tahu tentang kamu Qi.” Dara tersenyum jahil Riqi tiba tiba terdiam dan raut mukanya berubah sedikit menegang. Ia melamun sesaat, ‘kamu nggak tahu Ra, sebenarnya aku ingin kamu mencegah kepergianku tapi kamu malah sibuk meyiapkan semuanya untukku.” “Hey, kok malah bengong sih. Ayo rapiin lagi itu barang barangmu.” Dara menyenggol lengan Riqi. “Ah, iya iya.” Riqi kembali tenggelam mengemasi beberapa barang yang akan ia bawa ke negeri seberang. “Dara, Riqi, ayo makan siang dulu sebelum berangkat ke bandara.” Mama Riqi ...

Terlambat Menyelematkan Hati

Gambar
“Maaf, aku minta maaf...” Angin masih berderu dan mendung mulai mengangkasa. “Minta maaf dan memaafkan itu mudah tapi melupakannya yang susah.” Kau masih dengan muka yang dingin. “Lalu, bagaimana selanjutnya?” Nada bicaraku mulai menurun dan terdengar sedikit memelas. “Bagaimana? Aku juga nggak tahu.” Lalu kau diam, angin mulai berhembus tapi bagiku udaranya menyesakkan. Kita masih diam saja di sebuah balkon yang pandangannya mampu menembus angkasa sedang penyeselanku tak mampu menembus kesempatan untukku. Kemudian kau menjabarkan bagaimana sikap tak menyenangkanku melukai hatimu. Sebenarnya ingin kusangkali bahwa apa yang kau utarakan adalah yang tak kau tahu dibalik itu semua. Namun percuma saja, aku adalah yang selalu tak mampu berkata kata sepenuhnya ketika bersamamu. Rasanya cukup dan nyaman aku berada di sisimu meski tanpa saling berbicara. “Baiklah, aku memang salah. Aku terlambat mengetahui kesalahanku sebelum kau jabarkan semua.” Akhirnya aku menyerah, aku mengaku kalah. Tapi ...

Maafkan Keterlambatanku

Gambar
Untukmu, Hay, apa kabar kau (nanti) ? Bukankah pada setiap surat selalu menanyakan bagaimana kabar? Mengapa kutulis nanti? Karena aku tak akan pernah lagi tahu kabarmu setiap hari. Ya, aku pun baru saja mampu menulis surat untukmu saat ini karena sebelum ini ada gejolak batin dan pikiran bahkan aku tak terdaftar seperti pengirim surat cinta lainnya. Mungkin aku selundupan, tapi apapunlah itu yang penting aku ingin menuliskan surat untukmu. Kekasih, (apa masih boleh aku menyebutmu kekasih?) malam ini saat hati yang dulu jatuh karena cinta telah jatuh lagi dan kini ia patah. Ya, maafkan untuk keterlambatanku. Keterlambatan untuk memahamimu, keterlambatan untuk mengetahui kesalahanku yang terlampau menyakiti hatimu, dan maafkan untuk segala apa apa yang belum bisa aku berikan padamu. Aku tak mampu melerai perasaanku sendiri. Kali ini pada musim yang sama segala bahagia yang pernah ada perlahan sirna bersamaan dengan lara yang menyeruak masuk dalam duka. Oh, kekasih biarkan aku lancang men...

Maafkan Kebungkamanku

Gambar
Sore ini jalanan basah terguyur air angkasa yang memendungkan awan. Aku tak kuasa menahan sesak di dada, sudah berulang kali aku meyakinkan diri bahwa aku baik baik saja dengan keadaan ini tapi perasaan yang kemalut ini tak mampu menyangkali. "Ris, pakai jas hujan ta?" Kartika di depan kemudi sepeda motor "Ris!" Mataku yang memanas lalu terkesiap "Kenapa?" Tanyaku pada Kartika "Hujan nih pakai jas hujan ta?" Kartika sedikit mengeraskan suaranya. "Iya udah." Aku hanya menjawab singkat. Mungkin kepalaku perlu diguyur hujan sebab penat semakin membabi buta, liburan di kota yang mampu memberi kesejukan nyatanya tak mampu mengusir pikiranku atas dirimu. Seharusnya aku juga membiarkan badanku hujan hujan lalu kutadah air angkasa itu di kelopak mataku yang terbuka agar tak semakin memanas atau hanya sekadar menyembunyikan tangis yang mungkin sewaktu waktu pecah diperjalanan. "Ini gimana tasnya?" Kartika sibuk meletakkan tas tas ke tr...

Album Hitam

Gambar
Aku masih memandangi deretan album hitam di tanganku. Tidak, bukan album kematian, bukan album yang menyeramkan meskipun covernya berwarna hitam. Namun album ini adalah album penuh kenangan bersama seseorang yang kini entah dimana keberadaannya. “Dhar, kamu itu kebiasaan deh fotoin aku tanpa bilang bilang dulu.” Dia masih asyik dengan kameranya itu, lensanya diputar putar berulang kali untuk mendapatkan fokus paling bagus. Aku tak mengerti mengapa ia senang sekali memotretku dengan tiba tiba seperti itu, jangankan berpose atau tersenyum ketika dia memotretku, menoleh pun aku tak mampu. Dia sangat lihai sekali dengan salah satu tombol yang begitu cepat saat membidik, hanya sekali klik. “Yang natural lebih maksimal.” Begitu katamu berulang kali ketika aku mengomel kepadamu karena dia memotretku dengan seenaknya sendiri. Terkadang aku heran, mengapa ia menjadikanku objek kameranya padahal aku tahu benar seleranya adalah memotret pemandangan alam ataupun benda benda mati yang tak bergerak....

Lara Dira

Gambar
Angkasa masih sangat  pekat, meski belum legam namun gelagar guntur masih bersahutan. Sama halnya seperti hatiku yang kini disambar sambar sayatan kata katanya beberapa detik lalu. “Apa yang harus kita lakukan lagi Bim? Kita sudah tak sanggup bertahan. Sudah berapa lama kita kukuh dengan hubungan ini? Tapi nyatanya apa? Sama saja kan? Tak berguna!” Pertanyaanmu penuh retori Dir, aku masih tak sanggup mencerna apa apa saat itu. Waktu terasa begitu membeku meski hujan yang mengguyurku adalah liquid yang membuatku basah. Ya, basah pula seperti mataku yang kau tak tahu karena air hujan telah menyamarkannya. Setelah itu kelebat memori tentang kita berdua selama dua tahun lalu bagai potongan film yang kini kasetnya kau injak injak tanpa kumengerti mengapa harus jadi begini? “Cukup Bim, jauhi aku mulai detik ini. Jangan paksakan kita untuk bersama lagi. Sudah cukup aku dibantai sakit hati oleh orang orang yang menyayangimu. Pergilah Bim.” Kemudian masih terpaku di jalanan beraspal yang mu...

Tersingkapnya Kebungkaman Nayla

Gambar
Gadis itu masih tertegun di tepi danau yang tenang, di balik pekarangan milik pamannya. Ia nampak begitu tenang pula masih dengan balutan selendang di kepalanya, menutupi setiap helai rambutnya namun samar samar mampu kulihat legam warna di balik selendang putih susu itu. Aku belum mengerti apa yang sedang ia pikirkan disana. Aku tak kuasa mendekat, hanya mampu memerhatikannya dari kejauhan. Sudah beberapa kali aku tak menyambangi danau ini, tak duduk di tepian danau dan kayu lapuk yang bertengger dengan tenang disana. Walau begitu kayu lapuknya masih mampu menampung berat badanku dengan nyaman. Ya, semenjak gadis yang selalu berselendang itu menyinggahi tempat semediku. Aku hanya diam saja tak berontak karena dia telah merebut tempat yang selama ini kujadikan persembunyian dari kejaran pikiran yang riuh rendah. Mungkin karena guratan di wajahnya mengisyaratkan sendu dan pilu yang begitu mendalam. Aku pun heran, mengapa tak ada sanak keluarganya yang datang untuk sekadar menyapanya jik...

Sederhana Saja

Gambar
“Kamu harus hepi dong.” “Aku hepi punya kamu.” “Kamu hepi kan?” “Aku hepi...” Kata kata itu yang selalu aku dapatkan dari setiap perbincangan kita dan kini sangat melekat dalam detik kehidupanku. Aku baru mengenalmu sebulan yang lalu, baru seminggu awal perkenalan kita lalu dengan cepat dan tepat kita sama sama menjatuhkan hati. Ya, kita berdua sedang kasmaran. Jatuh cinta. Ah, meski sesingkat itu aku mungkin telah mampu merangkum hal hal sederhana yang kau lakukan. Kau selalu membeli air mineral jika kita sedang makan bersama, kau selalu haru ketika apa apa mengisahkan tentang mamamu, satu lagi yang aku ingat kau selalu memanggilku “Poni” karena dahiku selalu tertutupi olehnya. “Mas Betmen” Panggilan kesayanganku untukmu, sungguh lucu memang mendengarkan ceritamu tentang obsesimu semasa kecil ingin menjadi seorang betmen yang menjadi pahlawan bagi yang kusasahan. Aku pikir kau memang sudah melakukannya saat ini. Kau telah menjadi inspirasi bagi banyak orang kini. Ah, aku juga ingat ka...

Cahaya

Gambar
“Aku nggak mau Rin.” Aku masih saja bersikeras berbaring di balik selimutku. “Kenapa sih kamu itu Ca? Sudah dandan cantik juga.” “Tapi aku malu.” “Malu kenapa? Malu karena ada Stella dan teman-temannya diluar? Kamu kan datang di acara ulang tahun Dandi karena dia yang mengundang kamu datang ke pestanya.” “Kalau untuk datang di pestanya aku nggak masalah Rin tapi kalau untuk...” “Apa? Untuk nyanyi di depan umum kamu malu? Dandi sudah pernah bilang berapa kali sih ke kamu kalau dia itu paling kukuh mendukungmu, mengembangkan bakatmu, bahkan dia bersedia menjadi pengiringmu bermain gitar.” Karin terus saja mengomel Aku hampir menangis dibuat takut sendiri oleh rasa minderku. Aku memang bukan gadis populer di sekolah seperti Stella dan teman temannya. Bahkan aku termasuk cewek kuper yang nerd banget tapi ketika Dandi menemukanku bernyanyi di sudut lorong sekolah ketika aku mengisi mading dia langsung menarikku ikut dalam bandnya. Tahu sendiri? Aku pasti menolaknya. “Suaramu merdu Ca, ada k...

Pelukan Rindu

Gambar
Masih ada kemelut hati selarut ini, aku pikir dengan detakan jam menuju pukul dua belas malam ini akan mampu melunturkan segala apa apa yang aku rasakan semenjak pagi tadi. Aku seduh cokelat panas supaya menenangkan hati, nyatanya tak mampu jua melerai hati dan pikiran yang saling adu persepsi. Aku bingung sendiri, manakah yang harus aku jalani? “Ren, kamu kenapa sih? Gelisah banget gitu.” “Aku? Emm...nggak kenapa kenapa kok.” “Nggak kenapa kenapa tapi mondar mandir terus. Tumbenan sih hari ini kayak gitu. Padahal kan kamu biasanya duduk manis baca novel.” “Pengen cari suasana beda aja.” “Cari suasana beda kok mukanya suntuk gitu.” Aku masih saja melangkahkan kaki, melaju tak henti namun tanpa tujuan. Tak peduli dengan ocehan Gina. Aku menengok sesekali pada jalanan setapak menuju kamar nomor 108 itu. Pantai di hadapanku masih juga sama deru ombaknya pun deru di jantungku yang makin lama makin risau. Hanya lampu beberapa saja yang masih menyala, lautan hanya terlihat legam dimakan mala...

Kepulangan Kalista

Gambar
Ada yang mengetuk pintu tiap malamnya, tiap kesendirian menghantarkan selimut dingin tanpa pernah kupinta. Sedang lamunan merongrong di pikiranku, aku pikir siapa saja yang mengetuk pintu itu adalah apa apa yang mampu menghempaskan kesendirianku punah. Nyatanya ia yang membuatku semakin lekat dengan kesunyian. Aku menyebutnya kerinduan. Ya, bukan sekadar nyanyian dalam lirik-lirik lagu masa kini yang kurasa sungguh tak patut dibanggakan. Aku tidak setenar lirik-lirik itu memang, tapi aku tak peduli. Aku masih berontak dengan lirik-lirik tak menarik untuk dilirik. Barangkali lantunan nada-nada, semisal dawai gitar atau tuts tuts piano yang mengiring lirik-lirik tak penting itu, mampu membuat berontakku terenyuh. “Ren, sudah kau siapkan semua perlengkapan kita besok?” “Sudah kak, ini aku masih benahin proposal yang harus kita kumpulkan.” “Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu ya. Sudah gerah, aku mau keluar ke cafe selasai mandi. Kau mau ikut?” “Ah, tak usah kak. Aku disini sajalah.” “Tak...

Cemburu

Gambar
Masih ada belenggu ragu Masih ada usikan masa lalu Ini persoal kisahmu dulu Bukan perihal aku yang dikurung sendu “Udahlah Ren, kamu itu selalu aja negatif thinking soal Kak Amda.” “Gimana nggak negatif thinking Nin, aku cuman berapa hari sih jadi pacarnya?” “Nah, justru karena kamu baru jadian sama Kak Amda itu jangan berpikiran macem-macem dululah.” “Oke, sekarang coba kamu jadi aku. Apa yang kamu lakuin?” “Ya, aku bakal berpikiran positiflah.” “Nggak semudah itu Nin.” Karen menyodorkan layar laptopnya ke arah Hanin. “Nih, lihat nih. Foto-fotonya Kak Amda sama mantannya.” “Kan cuman foto Ren.” “Cuman foto? Lihat tanggalnya!” Emosi Karen tiba-tiba naik cepat. “Hey, hey apa sih? Kalian berdua ributin masalah apa sebenernya?” Ria mencoba merangkul Karen dan menenangkan emosinya agar tak semakin pitam. “Nih, lihat nih Ri. Kalau kamu jadi aku gimana? Kak Amda masih nyimpen foto-foto mantannya.” Kini layar laptop beralih ke tatapan Ria. “Wuih, itu mantannya?” “Iya, kenapa? Aku kalah cantik...

Luruhkan Masa Lalu

Gambar
Daun-daun kering di jalan setapak taman ini masih berserakan dimana-mana, ada angin yang sesekali mengajak mereka menepi di sisi pohon. Sore ini aku berjalan sendiri tanpa barang-barang yang selalu menggelayut di punggungku beserta isinya. Entahlah, aku hanya ingin menikmati taman kota yang rasanya tak sesepi ini ketika tiap pulang kuliah aku melewatinya. Aku mencari bangku taman yang kiranya mampu menopang segala pikiran yang berkecamuk seakan mencambuk-cambuk. Masih daun gugur sebelum mengering Sedang aku masih menunggu walau luka belum kering “Aku sudah nggak bisa mertahanin hubungan kita Rin.” “Tapi kenapa? Karena mama? Kenapa kamu nggak mau berjuang buat aku?” Sayup-sayup kudengar percakapan sepasang kekasih yang menurut dugaanku sedang bertengkar. Namun aku masih sibuk dengan lamunanku sendiri kemudian. Lalu, sampai saat ini pohon masih beranting Sedangkan hatiku selalu genting “Aku nggak suka diatur-atur begitu Rin, aku sudah beri banyak pengertian kan ke mamamu tapi tetap saja ...

Wedding Bell

Gambar
Kring...Kring..Kring... “Siapa sih Dis yang ngbel-ngebel depan rumah.” Echa masih sibuk menatapi dirinya di depan cermin dengan gaun putih berenda merah jambu. “Aldo kali’.” “Hah? Aldo? Yang bener aja, aku nggak ada janjian sama dia.” “Eh Cha, masa’ iya ketemuan sama calon istri masih aja pakai janji. Pikiranmu itu jangan ngantor terus dong.” “Hih, kamu ya. Ya nggak gitu juga’ sih Dis tapi...” “Udah-udah jangan banyak ngoceh deh, cepet ganti baju sana biar aku yang bukain pintunya.”                 ***** “Bajunya gimana Cha, sudah kamu coba kan?” “Sudah, tadi waktu kamu ngebel pintu aku masih pakai gaunnya. Lagian kamu kenapa nggak bilang-bilang aku dulu sih kalau mau kesini.” “Kan aku mau bikin surprise ke kamu. Yuk.” “Loh, mau kemana?” “Ikut aja yuk nanti juga tahu.” “Do, kamu kok sekarang main misteriusan gini sih. Nggak suka ah.” “Siapa yang misterius sih Echaku sayang. Ayo cepet gih buruan masuk mobil.” Aldo...

Kau Terindah Dalam Dunia Yang Tak Selamanya Indah

Gambar
“Hmm...habis ini ke toko bunga, nganter pesenannya Bu Erni. Terus ke toko DVD beli kasetnya Kak Rubi, habis itu ke toko buku beli novel, terus....” Braaak.... Tas Elsa jatuh menyerakkan segala isi yang ada di dalamnya, handphonenya pun tak luput terjatuh di jalanan setapak taman itu. Ia sibuk mengingat segala kegiatan yang akan dilakukannya hari ini. Memo di handphonenya selalu setia menemani tiap waktu kehidupannya. Elsa selalu tak terima jika hidupnya dibilang selalu tertata. Ia berkata bahwa memo di handphonenya untuk mendata daftar kebahagiaan dalam hidupnya. “Aduh, kok bisa berantakan gini sih.” Elsa ngomel-ngomel sembari bibirnya yang terus meruncing karena kesal. “Maaf, aku nggak sengaja.” “Iya, nggak apa-apa. Aku juga yang terlalu ceroboh. Ma...” Elsa mendongak sejenak untuk mengatakan permintaan maafnya langsung pada sorot seseorang yang telah ia tabrak. Namun kata maafnya hanya sampai pada suku kata ma saja ketika ia tersadar akan sesuatu. “Elsa...” Orang itu nampaknya juga m...

What a Bad Day and Good Day Today!

Gambar
“Terus gimana dong Dis?” “Apa kita jujur aja ke Nikas?” “Dis !” “Kalian bisa diem nggak sih? Aku juga bingung harus gimana sekarang? Bisa nggak, kalau nggak ke aku aja nyari solusinya. Daridulu sampai sekarang kalau lagi ada masalah kalian larinya ke aku, kalau udah runyam masalahnya aku yang disalah-salahin.” Siang itu Gladis benar-benar emosi, terik mentari semakin membuat pikirannya semakin ruwet tak karuan. 'Hari ini sial benget sih, udah ban mobil bocor padahal udah bangun kesiangan. Dimarahin guru fisika gara-gara tugas ketinggalan di rumah. Ini lagi anak-anak pada nanyain masalah yang nggak gua lakuin.’ Gladis menggerundel dalam hati. “Ya, maaf Dis. Kan elo bosnya disini?” “Lo kira gua mafia? Pake’ acara bos-bos segala.” “Kan elo yang paling sakti diantara kita.” ‘Lo pikir gua Wiro Sableng apa?’ Gladis hanya membatin sembari melotot pada Stella serta napas panjangnya berhembus tanda kesal. Tiba-tiba pintu kelas digedor sangat keras dari luar. “Eh, elo pada tanggung jawab. Ua...