Gadis Periang
Masih bekas, peluk yang kaurengkuh lekas Saat mendung di angkasa senja meretas Sekali pandang senyemmu merekah Meski tak ada gincu poles merah Walau temu sekilas Menyisakan rindu tak berbatas Ada ceria terpatri di dirimu Aku pikir tak akan pernah habis meski jemu Andai segala macam gadis seriang itu Mungkin warna remaja terbias cerah menderu Selayak bunga api yang meletup Kegirangan padamu tak pernah mengatup Hai gadis, Tebarkan selalu aroma arum manis Agar bahagia tak mudah terkikis Sebab keadaan kadang ciptakan tangis Mbak Fikha.... Sudah aku buatkan puisi nih, tuntas utangku? He he. Maaf kalau hanya sebatas begitu saja puisinya. Apa kabar mbak Fik? Hanya dua kali kita bertemu, setelah itu kita sibuk dengan tugas masing masing. Pertama kali mengenalmu aku merasa kau selalu saja ceria seperti itu. Pernah memang kau ceritakan banyak kisah cinta yang mengharu biru tapi aku yakin kau masih seorang perempuan yang kuat seperti kau memberikan aku semangat. Mbak Fikha masih memanggilku poni ...